Jumat, 05 April 2013
Kamis, 21 Maret 2013
Kode Spesifikasi Pelumas Kendaraan
Nie cara mengetahui spesifikasi oli mesin buat kendaraan kita biar gak asal tuang ke mesi. Salah tuang malah bisa bikin loyo kendaraan bahkan bisa fatal akibatnya. Jika kemarin sudah di ulas tentang SAE oli kendaraan sekarang bahas tentang arti-arti kode spesifikasi oli yang tertera pada setiap kemasan oli/pelumas.
Setiap pabrikan kendaraan bermotor telah melakukan pengujian pada setiap mesin mesin yang telah diproduksi. Tentu saja mereka mengacu pada standarisasi dunia, misalnya
API Service (American Petroleum Institute)
JASO (Japan Automotive Standard Association )
ACEA (Association Des Constructeurs Europeens d' Automobiles )
DIN (Deutsche Industrie Norm )
Untuk mesin kendaraan ( Motor ), Grade yang tersedia mengacu pada API Service. API Service sendiri mempunyai kode mulai dari SA hingga SM, dan di tengah-tengahnya ada SF, SG, SH, SJ, SL dan lainya. Sementara jika mengacu pada standar JASO pada mesin 2-Tak terdapat kode FA - FD, Sedangkan pada mesin 4-Tak baru ada MA dan MB.
Mutu suatu pelumas berdasarkan API Service ditunjukan oleh tingkatan huruf dibelakangnya. Misalkan API SL, Kode S (Spark) menandakan elumas mesin bensin. Sedangkan kode pada huruf kedua menunjukan nilai mutu pelumas tersebut. Semakin mendekati huruf Z maka semakin baik pelumas dalam melapisi komponen mesin. Dan kode kode tersebut juga merujuk pada mesin-mesin pada keluaran tahun tertentu.
Penggunaan spesifikaksi yang lebih rendah tentu akan mengurangi performa kendaraan. Pabrikan tentunya telahmengerti secara detail equipment yang dibuatnya. Sehingga bila kita tidak memenuhinya, maka tidak akan memperoleh featur maupun benefit atau bahkan mungkin bisa menyebabkan terjadinya penurunan kinerja pada mesin kendaraan. Oleh sebab itu saat memilih pelumas sangat dianjurkan untuk memperhatika tahun produksi motor dan grade oli yang di anjurkan oleh pabrikan.
Grade Oli berdasarkan Tahun Produksi Mesin
API : SF/SG/SH : Untuk mesin kendaraan produksi tahun 1980 - 1996
API : SJ : Untuk mesin kendaraan produksi tahun 1996 - 2001
API : SL : Untuk mesin kendaraan produksi tahun 2001 - Sekarang
JASO (Mesin 2-Tak) : Kode FA - FD
JASO (Mesin 4-Tak) : Kode MA untuk mesin bertransmisi girbiks
: Kode MB untuk mesin bertransmisi automatic (CVT)
sumber referensi : motorplus.net
Rabu, 20 Maret 2013
Kenali Kode SAE pada Oli Motor
Kekentalan oli adalah hal yang paling penting saat menetukan oli buat tunggangan kesayangan anda. Yang mana kekentalan oli tersebut merupakan salah satu sifat karakteristik oli mesin. Kekentalan oli ini juga sering disebut visikositas. Sebelum memilih oli motor buat tunggangan kesayangan ada baiknya jika kita bahas sedikit tengtang teori pelumas oli berdasarkan SAE Oli motor.
SAE merupakan kepanjangan dari Society of Automotive Engineer. SAE merupakan sebuah lembaga standarisasi oli mesin, atau bisa diibaratakan semacam ISO, DIN, JIS yang mengkhususkan diri dibidang otomotif.
Viscosity
Viskositi adalah kemapuan laju liquid dalam hal ini adalah Oli Pelumas. Untuk oli pelumas sendiri dikenal dengan lube grade. Yang kemudian oleh SAE diuji pada temperatur tertentu sehingga kita mengenal oli multi grade 10W40,20W50 dan sebagainya serta oli mono grade seperti SAE20, SAE40 dan sebagainya.
Ini berbeda dengan pengujian oli pelumas industri. Pengujian dilakukan oleh ISO, sehingga lahirlah istilah lubrcant ISO VG32, ISO VG46, ISO VG100 dan sebagainya. Dimana ISO melakukan standar pengujian pada 40 deg C dan 100 deg C. Atau mungkin untuk applikasi gear digunakan standar AGMA atau SAE gear viscosity.
Viscosity Index
Sedangkan Viskositi Index (VI) adalah kemampuan lubricant mempertahankan kekentalan terhadap temperatur, Baik itu HI atau LOW temp. Semakin tinngi nilai VI maka semakin baik lubricant itu terhadap perubahan temperatur.
Setelah berbicara tentang teknis, sekarang kita lanjutkan pada rahasia kode SAE Oli Pelumas Motor :
+ Tingkat kekentalan suatu oli mesin mengacu pada lembaga SAE berdasarkan tabel SAE J 300 th 1999
+ Ada sekitar 30 jenis kekentalan SAE yang dikenal selama ini, diantaranya seperti SAE40, SAE10W,SAE20W-50, SAE15W-50, SAE10W-40 dan lai-lain.
+ Ada sekitar 30 jenis kekentalan SAE yang dikenal selama ini, diantaranya seperti SAE40, SAE10W,SAE20W-50, SAE15W-50, SAE10W-40 dan lai-lain.
Angka dibelakang huruf SAE ini yang menunjukan tingkat kekentalan. Contohnya, kode SAE50 menunjukan oli tersebut mempunyai tingkat kekentalan 50 menurut standar SAE. Dan semakin tinggi maka semakin kental pelumas tersebut.
Ada pula kode angka yang menunjukan multigrade seperti 10W-50. Kode ini menandakan pelumas mempunyai kekentalan yang bdapat berubah - ubah sesuai dengan suhu di sekitarnya. Huruf W dibelakang angka 10 merupakan singkatan dari kata Winter (Musim Dingin). Maksudnya, Pelumas mempunyai tingkat kekentalan sama dengan SAE10 pada saat suhu udara dingin dan SAE50 ketika udara panas.
PERTANYAAN :
+ Lalu Oli ber SAE manakah yang cocok untuk tunggangan kesayangan kita? SAE20W-40, SAE10W-40 atau SAE15W-50?
+ Benarkah kalau tarikan enteng pake oli yang lebih encer, menadakan oli yang dipake untuk tunggangan kita?
Mari kita cari jawabanya, kita akan coba membahas beberapa kode SAE untuk mendapatkan oli pelumas yang ideal untuk motor kita. Kita akan bahas satu per satu dari 4 tingkat SAE oli pelumas motor yang paling cocok umtuk iklim di indonesia.
Performa mesin dan hasil pengujian idealnya dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu : SAE20W-50, SAE10W-40, SAE15W-40, SAE15W-50
SAE 20W-50
Makna sesungguhnya : Oli mesin yang masih mampu dipaki sampai kondisi suhu dingin -10 s/d -15C (kode 20) dan pada suhu 150C dengan tingkat kekentalan tertentu.
Oli jenis ini relative kurang efisien dalam pemakaian BBm namun sanagat baik dalam perlindungan/perawatan mesin, Khususnya untuk kondisi jalan di Jakarta yang sering macet, Jarang berjalan jauh, polusi dan Badan berat.
Pada kondisi ini dikenal dengan istilah boundary lubricant. Dimana pada kondisi tersebut lapisan oli sangat tipis diantara celah mesin yang cenderung berpotensi terjadinya kontak antara logam dengan logam lainnya. Oli jenis ini relatif paling kecil nilai viskositas indeknya (VI), diantara 3 jenis oli lainya (minimal untuk oli mineral/ semi sintetis 120, sedang untuk simtetis 145).
Semakin banyak adiktiv viskosity index improver, semakin sensitif oli/ kurang baik buat mesin motor, utamanya terhadap stress di gear. VI = ukuran kemampuan suatu oli mesin dalam menjaga kestabilan kekentalan oli mesin dalam rentang sushu dingin samapai tinggi. Semakin tinggi VI semakin baik kestabilan kekentalannya. Sedangkan untuk oli mobil VI tinggi akan sanagat baik untuk mesin. Dan untuk motor bisa juga sebaliknya.
SAE15W-50
Tipe oli pelumas mesin ini masih mampu dipakai samapai kondisi suhu dingin -15 s/d -20C (Kode 15W) dan suhu 150C dengan tingkat kekentalan tertenntu. Jenis oli relativ sama dengan SAE20W-50, Sedikit yang membedakan adalah sedikit lebih encer dan nilai VI lebih tinngi dibanding 20W-50 (minimal untuk oli mineral 130, untuk sistetis 150)
Semakin tinggi nilai VI artinya adalah semakin banyak pemakaian aditif peningkat angka VI. Untuk motor hal ini sangat riskan. Aditif ini relativ sensitif digunakan untuk motor yang menyatukan oli mesin dengan gigi (wet clutch). Artinya Oli jenis ini relativ lebih mudah berubah kekentalanya dibanding 20W-50.
SAE10W-40
Tipe oli pelumas mesin ini masih mampu dipakai samapai kondisi suhu dingin -20 s/d -25C (Kode 10W) dan suhu 150C denga tingkat kekentalan tertentu. Jenis oli yang relativ paling encer diantara ke 3 jenis oli lainya. Oli ini relativ paling irit BBM, namun kurang baik dalam perlindungan mesin. Terutama pada kondisi jalan sering macet dan beban berat (sering dipake berboncengan) dan relatif sama dengan 15W-50 dalam hal pemakaian aditif peningkat angka VI (minimal untuk oli mineral 130, sistetis 150)
SAE 15W-40
Tingkat mutu pelumas mengadu pada API (American Petroleum Institute). Untuk kendaraan berbahan bakar bensin, pelumas biasanya menggunakan kode yang berawalan dengan huruf S. S merupaka kepandekan dari kata Spark yang berarti percika api/busi. Contohnya SA, SB, SC, SD, SE, dan SF. Sedangkan pada mesin disel kode mutu pelumas diawali denga huruf C. Dimana C merupaka kependekan dari kata Compression, yang mana sifat pembakaran dalam disel terjadi karena adanya tekanan udara sangat tinggi. Contohnya kode huruf CA, CB, CC dan CD.
Selasa, 19 Maret 2013
Oli Mesin Motor, Motor Tua Tetap Sesuaikan Spesifikasi
Penggatian pelumas/oli mesin secara berkala memang menjadi anjuran bagi s emua pabrikan. Karena fungsi dari pelumas itu sendiri adalah melumasi bagian - bagian mesin agar terlinndung dari ke-ausan. Dan jenis pelumas juga akan mempengaruhi performa dari kendaraan itu sendiri. Akan tetapi, saat pabrikan sudah tidak memproduksi pelumas yang sesuai dengan spesifikasi motor kita karena usia yang tak muda lagi, apa yang mesti kita lakukan. Janagan sampai salah pilih, apa lagi salah langkah. Bisa - bisa motor enggak panjang umur.
Misal Hoda Tiger 2000 atau Honda Grand ataulah Supra tahun 2000an ketentuan dari pabrik harus menggunakan oli SAE 20W-40. Tapi karena oli ini susah didapat maka sedikit terpaksa pilih oli SAE 10W-30. Dengan alasan mengikuti motor sejenis terbaru. Memang tipe ini lebih mudah didapat, karena motor keluaran terbaru kebanyakan menggunakan tipe oli ini.
Sebelum merambah ke akibat dari penggantian yang tidak sesuai ini, Tidak ada salahnya jika kita membahas tentang arti dari SAE dan angka yang tertera pada kemasan setiap pelumas itu sendiri.
SAE atau kepanjangan dari Society of Automotive Enginering merupakan sebuah lembaga yang membuat standarisasi oli, Contohnya : 20W-40 yang artinya 20W merupaka visikositas oli ketika berada pada suhu dingin. Sedangkan angaka 40 berarti visikositas oli pada suhu panas.
Nah setiap kendaraan bermotor mempunya ketentuan spesifikasi oli yang berbeda beda, yang di sesuikan dengan karakteristik mesin. Tentunya hal ini berdasarkan riset yang telah dilakukan oleh pabrikan, agar mesin dapat bekerja secara maksimal.
Dan tipe oli yang tidak sesuia dengan spesifikasi ini dapat menimbulkan masalah ketika tetap dipaksakan. Misal : Mesin motor dengan spek oli SAE 20W-40 yang mempunyai karakter kental, di paksa dengan oli SAE 10W-30 yang punya karakter lebih encer. Maka mesin akan udah panas dan kemungkinan slip kopling bisa terjadi. Kalo pun mau di ganti bisa dipakai oli SAE 20W-50.
Sumber Reverensi : MotorPlus
Selasa, 15 Januari 2013
Jenis - Jenis Busi Motor
Busi merupakan arti penting pada mesin bensin seperti pada sepeda motor. Busi merupakan sumber pematik api untuk terjadinya proses pembakaran. Pada dasarnya ada 3 komponen yang menyebabkan terjadinya pembakaran, yakni : Bahan Bakar, Oksigen/Udara, Kalor/Api.
Bertugas membantu proses pembakaran, sesuai data timing pengapian yang dihasilkan dari putaran rotor magnet yang disampaikan fulser dan diolah oleh CDI, serta dibangkitkan oleh koil dan diteruskan ke busi. Api dan suhu busi harus dapat mencegah pembakaran dini dan suhu busi juga dituntut tinggi, untuk mencegah timbulnya endapan kerak. Dan untuk melayani kebutuhan mesin dan kenyamanan berkendara, beberapa produsen busi meluncurkan beberapa tipe busi, seiring pesatnya perkembangan teknologi mesin.
Busi standar
Bawaan motor setiap diluncurkan dari pabrikan. Bahan ujung elektroda dari nikel dan diameter center electrode rata-rata 2,5 mm. Jarak pemakaian busi standar bisa sampai 20 ribu Km, ketika kondisi pembakaran normal dan tak dipengaruhi oleh faktor lain macam oli mesin dan konsumsi BBM yang berlebihan efek peningkatan spek karbu .
Busi Platinum
Disuka kaum bikers penyuka touring, lantaran kemampuannya. Ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electrode dari platinum, sehingga pengaruh panas ke metal platinum lebih kecil. Diameter center electrode 0,6 mm – 0,8 mm dan jangan heran, ketika umur busi umur busi berkisar 30 ribu km.
Busi Iridium
Bisa dikatakan semi kompetisi, ramai diaplikasi tuner buat mesin non standar. Ciri khasnya ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electroda dari iridium alloy warna platinum buram. Diameter center electroda 0,6 mm – 0,8 mm mm. Dan umur busi berkisar 50 ribu hingga 70 ribu km. Keuntungannya, berumur lama cocok buat mesin motor besar diatas 150 cc.
Busi Racing
Busi yang didesain dan dipersiapkan dengan bahan yang tahan terhadap kompresi tinggi, serta temperatur mesin yang tinggi pula. Dan dipersiapkan untuk mampu mengimbangi pemakaian full throttle dan deceleration.
Busi racing tidak sama dengan busi Iridium. Diameter center electroda pun relatif kecil meruncing macam jarum. Umur busi juga relatif pendek di 20 ribu – 30 ribu Km, itu ketika mesin dominan bergasing di rpm tinggi diatas rpm 6000 pada temperatur mesin yang tinggi.
Busi Resistor
Ini dia busi yang sering mengecoh konsumen, logo R latin dengan font miring banyak yang mengira artinya racing. Dan sebenarnya R itu artinya resistor. Busi ini dipakai untuk melindungi perangkat elektronik digital, berupa speedometer, indikator pada kendaraan yang memakainya, terhadap pengaruh gelombang radio dan sejenis nya. Maka, busi ber-kode R pada busi mesti diingat, sebagai perlindungan perangkat elektronik digital motor.
Bertugas membantu proses pembakaran, sesuai data timing pengapian yang dihasilkan dari putaran rotor magnet yang disampaikan fulser dan diolah oleh CDI, serta dibangkitkan oleh koil dan diteruskan ke busi. Api dan suhu busi harus dapat mencegah pembakaran dini dan suhu busi juga dituntut tinggi, untuk mencegah timbulnya endapan kerak. Dan untuk melayani kebutuhan mesin dan kenyamanan berkendara, beberapa produsen busi meluncurkan beberapa tipe busi, seiring pesatnya perkembangan teknologi mesin.
Dan bagaimana kita mengenal daya tahan busi, kemampuan percikan bunga api, serta menyetarakan dengan gaya berkendara kita dan kebutuhan ?. Dan jenis busi apa yang cocok dikonsumsi untuk motor kita ?. Untuk itu kenali lebih dulu jenis busi, dari hasil investigasi mekanik dan tuner, berikut ini :
Busi standar
Bawaan motor setiap diluncurkan dari pabrikan. Bahan ujung elektroda dari nikel dan diameter center electrode rata-rata 2,5 mm. Jarak pemakaian busi standar bisa sampai 20 ribu Km, ketika kondisi pembakaran normal dan tak dipengaruhi oleh faktor lain macam oli mesin dan konsumsi BBM yang berlebihan efek peningkatan spek karbu .
Disuka kaum bikers penyuka touring, lantaran kemampuannya. Ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electrode dari platinum, sehingga pengaruh panas ke metal platinum lebih kecil. Diameter center electrode 0,6 mm – 0,8 mm dan jangan heran, ketika umur busi umur busi berkisar 30 ribu km.
Bisa dikatakan semi kompetisi, ramai diaplikasi tuner buat mesin non standar. Ciri khasnya ujung elektroda terbuat dari nikel dan center electroda dari iridium alloy warna platinum buram. Diameter center electroda 0,6 mm – 0,8 mm mm. Dan umur busi berkisar 50 ribu hingga 70 ribu km. Keuntungannya, berumur lama cocok buat mesin motor besar diatas 150 cc.
Busi yang didesain dan dipersiapkan dengan bahan yang tahan terhadap kompresi tinggi, serta temperatur mesin yang tinggi pula. Dan dipersiapkan untuk mampu mengimbangi pemakaian full throttle dan deceleration.
Busi racing tidak sama dengan busi Iridium. Diameter center electroda pun relatif kecil meruncing macam jarum. Umur busi juga relatif pendek di 20 ribu – 30 ribu Km, itu ketika mesin dominan bergasing di rpm tinggi diatas rpm 6000 pada temperatur mesin yang tinggi.
Ini dia busi yang sering mengecoh konsumen, logo R latin dengan font miring banyak yang mengira artinya racing. Dan sebenarnya R itu artinya resistor. Busi ini dipakai untuk melindungi perangkat elektronik digital, berupa speedometer, indikator pada kendaraan yang memakainya, terhadap pengaruh gelombang radio dan sejenis nya. Maka, busi ber-kode R pada busi mesti diingat, sebagai perlindungan perangkat elektronik digital motor.
Langganan:
Postingan (Atom)



